Provinsi Lain Hadapi Musim Penghujan, 4 Provinsi Ini Justru Diminta Bersiap Hadapi Kekeringan

- 1 September 2021, 17:04 WIB
Ilustrasi kekeringan
Ilustrasi kekeringan /Pixabay/Skitterphoto

SERANG NEWS - Memasuki bulan September hingga November 2021 ini, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim penghujan.

Namun, ada empat provinsi yang justru berpotensi menghadapi kekeringan. Keempat daerah itu yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali dan Jawa Timur.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia melalui surat nomor B-121/BNPB/DII/BP.03.02/08/2021, menyampaikan peringatan dini dan menghadapi bencana kekeringan meteorologis.

Baca Juga: Varian Baru Covid-19 Bernama Mu Dipantau WHO: Ada Risiko Resistensi pada Vaksin

BNPB meminta kepala daerah di empat provinsi tersebut untuk bersiap melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Prasinta Dewi mengatakan, pertama, pemerintah daerah diminta untuk melakukan pemantauan dan peninjauan lapangan bersama dinas-dinas terkait untuk mengantisipasi dan menangani terjadinya kekeringan serta potensi kebakaran hutan, lahan dan semak.

Selain itu, potensi bahaya yang perlu diantisipasi yaitu berkurangnya persediaan air untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian, kebakaran semak, hutan, lahan dan pemukiman.

Baca Juga: Anggaran Informasi Pembatalan Ibadah Haji Telan Dana Rp21 Miliar, Menag Yaqut Cholil Quomas Dicecar DPR

"Memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dampak kekeringan meteorologis sehingga masyarakat dapat menghemat penggunaan air bersih dan juga melakukan budidaya pertanian yang tidak membutuhkan banyak air,” kata Prasinta dikutip dari laman BNPB pada Rabu 1 September 2021.

Menurutnya, pemerintah daerah harus mengkampanyekan hemat air dan upaya antisipasi kekeringan dengan penyiapan logistik dan peralatan seperti tangki air bersih dan pompa air di lokasi yang membutuhkan.

"Melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan," ucapnya.

Baca Juga: Puluhan Kepsek SMPN Geruduk Kejari Pandeglang Kembalikan Uang Negara

"Mengikuti kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) serta tetap menjalankan segala peraturan pemerintah terkait percepatan penanganan Covid-19," tambahnya.

Ia juga menyampaikan, pemerintah daerah dapat melakukan koordinasi lebih lanjut dengan kedeputian teknis terkait di BNPB maupun Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB.

Pusdalops, ujar dia, selalu siaga dalam melakukan komunikasi dan koordinasi melalui call center 117.

Baca Juga: Update Covid-19 Indonesia Selasa 31 Agustus 2021, Kasus Positif Kembali Melonjak

Potensi terjadinya kekeringan juga didukung dengan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

BMKG mengindikasikan potensi kekeringan hidrometeorologis hingga dua dasarian ke depan. Potensi yang patut diwaspadai mencakup beberapa kabupaten dan kota di provinsi NTT, NTB, Bali dan Jawa Timur.

Berdasarkan pantauan BMKG, beberapa wilayah dalam status ‘Siaga’ kekeringan meteorologis seperti Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Pamekasan dan Situbondo di Jawa Timur, Kabupaten Buleleng dan Karangasem di Bali, Lombok Timur di NTB, serta Kabupaten Ende, Ngada dan Sumbar Barat di NTT.

Baca Juga: Jurnalis Banten Dukung Forum Pimred PRMN Ganti Istilah Koruptor dengan Maling atau Rampok Uang Rakyat

Sedangkan beberapa wilayah dengan status ‘Awas,’ terpantau di Kabupaten Bima dan Sumbawa di NTB, serta Kabupaten Alor, Belu, Flores Timur, Kota Kupang, Manggarai Timur, Sikka, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Timur di NTT.

Status ‘Siaga’ merujuk pada kondisi jumlah hari tanpa hujan paling sedikit 31 hari, prakiraan probabilitas curah hujan kurang dari 20mm per dasarian di atas 70 persen.

Sementara, status ‘Awas’ mendeskripsikan jumlah hari tanpa hujan paling sedikit 61 hari. Prakiraan probabilitas curah hujan kurang dari 20 mm/dasarian di atas 70 persen.***

Editor: Masykur Ridlo

Sumber: BNPB


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah