Kasus Nurdin Abdullah Belum Usai, KPK Panggil 7 PNS Pemprov Sulsel

12 Maret 2021, 16:26 WIB
Gedung KPK. /Pikiran-rakyat.com

SERANG NEWS - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pemanggilan terhadap tujuh Pegawai Negeri Sipil (PNS) terkait kasus Nurdin Abdullah.

Pemanggilan Pegawai Negeri Sipil (PNS) tersebut merupakan tindak lanjut dari kasus dugaan korupsi perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang dilakukan Nurdin Abdullah Tahun Anggaran 2020-2021.

Mereka dipanggil sebagai saksi dalam penyidikan kasus tersangka Gubernur Sulsel nonaktif Nurdin Abdullah (NA).

Baca Juga: Huru-hara Pondok Pelita, Nino Ungkap Rahasia Reyna ke Andin, Prediksi Ikatan Cinta Hari Ini

Baca Juga: 5 Pulau di Serang Banten Paling Populer, Cocok untuk Liburan bareng Orang Tercinta!

Juru Bicara KPK, Ali Fikri, dalam keterangannya membenarkan tentang adanya pemanggilan ini.

"Hari ini, pemeriksaan saksi dugaan tindak pidana korupsi perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Anggaran 2020-2021," ucapnya dikutip dari Antara, Jumat 12 Maret 2021.

Tujuh PNS yang dipanggil oleh KPK ini masing-masing bernama Herman Parudani, Ansar, Hizar, Suhasril, A Yusril Mallombasang, Asirah Massinai, dan Astrid Amirullah.

Baca Juga: Tanpa Didampingi AHY, DPP Demokrat Resmi Gugat Penggerak KLB Sibolangit ke PN Jakarta Pusat

Pemeriksaan terhadap 7 orang saksi itu digelar di Gedung Polda Sulawesi Selatan, Makassar.

Selain Abdullah, KPK sebelumnya juga telah menetapkan dua tersangka lain yang terlibat.

Satu orang di antaranya adalah Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sulawesi Selatan, Edy Rahmat.

Sedangkan, tersangka lain yakni kontraktor/Direktur PT Agung Perdana Bulukumba, Agung Sucipto.

Baca Juga: Viral, Aparat Perangkat Desa di Sukabumi Ramai-ramai Marahi Seorang Guru Usai Posting Jalan Rusak

Nurdin Abdullah diduga menerima dana sebesar Rp5,4 miliar dengan rincian pada 26 Februari 2021 lalu menerima Rp2 miliar yang diserahkan melalui Rahmat dari Sucipto.

Selain itu, Abdullah sempat diduga menerima uang dari kontraktor lain diantaranya pada akhir 2020, dia menerima uang sebesar Rp200 juta.

Selanjutnya, pada awal Februari 2021 lalu dia menerima uang Rp2,2 miliar yang diserahkan melalui ajudannya bernama Samsul Bahri.

Tidak hanya itu, dia juga diduga menerima uang Rp1 miliar pada pertengahan Februari 2021 melalui Bahri. ***

Editor: Kiki

Sumber: ANTARA

Tags

Terkini

Terpopuler